Meletakkan Landasan dalam Menuntut Ilmu [1]

Menuntut ilmu –yang dibutuhkan seorang Muslim dalam rangka melaksanakan peribadatan yang mengikatnya- merupakan kewajiban yang diwajibkan atasnya. Dan apa-apa selainnya, maka menuntut ilmu masuk pada hukum kewajiban bersama (fardhu kifayah), dan merupakan sesuatu yang dianjurkan dan sebagai tambahan bagi penuntut ilmu.

Dalil untuk landasan ini, adalah apa yang telah diriwayatkan dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda: “Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim.”

Dalil lainnya adalah kenyataan bahwa agama ini didasarkan pada dua prinsip utama, yaitu:
1. Bahwa tidak ada yang patut diibadahi melainkan Allah
2. Bahwa tidak ada peribadatan kepada Allah melainkan dengan apa-apa yang telah disyariatkan-Nya.

Seseorang tidak dapat benar-benar beribadah kepada Allah, kecuali pertama-tama dia mencari ilmu yang dibutuhkan untuk melaksanakan peribadatan yang diwajibkan Allah atasnya, yang dengan tujuan tersebut Allah menciptakannya. Menerangkan hal ini lebih lanjut, Ishaq bin Rahawaih berkata: “Menuntut ilmu adalah kewajiban, meskipun jika hadits yang berkenaan dengannya tidak shahih. Namun demikian, apa yang dimaksudkan adalah para penuntut ilmu diharuskan untuk mempelajari apa yang dia butuhkan dalam rangka menerapkan dengan baik wudhu, shalat, zakat, -jika dia mampu– Haji, dan sebagainya. Dia juga berkata: “Ilmu apapun yang diwajibkan untuk dicari, ia tidak perlu meminta izin kepada orang tuanya untuk keluar dan belajar. Namun apa-apa yang diluar itu, dia tidak seharusnya pergi menuntut-(ilmu)-nya sampai dia memperoleh izin dari orang tuanya untuk melakukannya.”[1]

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Menuntut ilmu agama hukumnya fardhu kifayah kecuali apa yang diwajibkan atas setiap orang untuk diketahui, misalnya setiap orang menuntut ilmu dari apa-apa yang Allah perintahkan untuk dikerjakan dan apa-apa yang Allah larang untuk dikerjakan, karena ini merupakan kewajiban setiap orang.”[2]. Ini adalah salah satu landasan terpenting, yang dengannya para pengikut hadits dibedakan dari yang lainnya, dan dengannya ahli bid’ah menuduh para pengikut hadits, menyatakan bahwa tujuan utama mereka hanya persoalan seputar thaharah, shalat dan semisalnya!! Namun pada kenyataannya, tak ada kesalahan dalam hal ini karena dengan (ilmu) thaharah anda dapat meraih kunci pembuka shalat. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Pembuka shalat adalah thaharah, yang mengharamkannya adalah takbir (Allahu Akbar) dan yang menghalalkannya adalah taslim (Assalamu’alaikum).”[3].

Beliau juga berkata: “Islam dibangun di atas lima fondasi:
1. Bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang patut disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah hamba dan Rasul- Nya,
2. Mendirikan shalat,
3. Membayar zakat
4. Berpuasa di bulan Ramadhan, dan
5. Berhaji bila mampu.[4]

Karena alasan-alasan ini, hal pertama yang disarankan bagi penuntut ilmu adalah berusaha keras untuk mendapatkan ilmu tentang kewajiban yang mengikatnya tersebut. Itulah sebabnya mengapa Imam Malik, ketika ditanya tentang menuntut ilmu, berkata: “Semuanya adalah baik. Namun demikian, carilah apa-apa yang engkau butuhkan siang dan malam, dan carilah ilmu yang berkaitan dengannya. Hal ini karena anda tidak dapat benar-benar melaksanakan peribadatan kepada Allah sampai anda memperoleh ilmu tentang apa yang disyariatkannya atas dirimu dalam hal (peribadatan) tersebut. Setelah anda memiliki pengetahuan itu, anda akan mengetahui bagaimana melaksanakan wudhu, bagaimana mengerjakan shalat, tata cara mandi, bagaimana membayar zakat, -jika anda memiliki kemampuan, bagaimana mengerjakan haji -jika anda bermaksud mengerjakannya, hukum-hukum pernikahan –jika anda bermaksud menikahi seseorang, hukum-hukum perceraian –jika anda bermaksud menceraikan seseorang, dan lain-lain.

*Landasan ini memerlukan hal-hal berikut ini:

1. Hukum sebuah kewajiban. Hal ini berhubungan dengan seorang Muslim yang bertanggung jawab terhadap perbuatannya. Jika dia muda (di bawah umur pubertas), maka menjadi kewajiban orang tua untuk mendidiknya hal-hal yang dibutuhkan untuk agamanya. Hal ini karena Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Tiap-tiap dari kalian adalah pemimpin dan masing-masing akan bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya.”[5]. Dan Allah berfirman, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At- Tahrim : 6) Sehingga, hal ini merupakan kewajiban atas Ayah Muslim dan Ibu Muslim untuk mendidik anak mereka apa yang seharusnya mereka ketahui mengenai hal-hal yang berkaitan dengan agama dan adab.
2. Penuntut ilmu harus mendahulukan menuntut ilmu mengenai apa yang wajib diketahuinya atas hal-hal yang dianjurkan untuk diketahuinya. Menyibukkan diri dengan belajar ilmu-ilmu yang dianjurkan lalu mengabaikan pengetahuan yang wajib merupakan salah satu rintangan dan halangan dalam menuntut ilmu. Misalnya, anda menemukan seseorang membicarakan masalah kerumitan bahasa atau mengenai tata bahasa, terminologi, kefasihan dan prinsip-prinsipnya, namun dia tidak dapat mengerjakan wudhu dengan baik sesuai dengan cara Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan juga tidak dapat melaksanakan shalat sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat… dan seterusnya, dan seterusnya.
3. Penuntut ilmu tidak boleh menentang orang tuanya dengan melakukan perjalanan keluar negeri guna menuntut ilmu yang dianjurkan. Namun bilamana ilmu tersebut merupakan ilmu-ilmu yang wajib diketahui olehnya dalam rangka beribadah kepada Allah malam dan siang, maka dia dapat melanjutkan perjalananannya, sebagaimana yang dinasihatkan Imam Ishaq, pada pernyataan beliau yang sebelumnya: “Ilmu apapun yang wajib untuk diketahui, ia tidak harus meminta izin kepada orang tuanya untuk pergi dan belajar. Tetapi apaapa yang diluar ilmu tersebut, seseorang tidak boleh keluar (menuntut ilmu) sampai ia mendapatkan izin dari kedua orang tuanya.”[6]
4. Ilmu pendukung, atau apa yang oleh para ulama biasa dinamakan “Ilmu Terapan”, seperti Bahasa Arab, Ilmu Kefasihan Berbahasa, dan Ilmu Prinsip-Prinsip Berbahasa, Hadits, Terminologi dan Ilmu-ilmu Al-Qur’an – para penuntut ilmu harus mengambil dari ilmu-ilmu tersebut yang akan memungkinkan dia mengaktualisasikan tujuan utama, yakni beribadah kepada Allah dengan benar – alasan yang dengannya kita diciptakan. Dan apabila ini bukan hal yang dimaksud, maka ia masuk ke dalam bidang ilmu yang berlebih-lebihan, dan Allah Maha Mengetahui. Maka tidak diwajibkan kepada seorang pelajar untuk mempelajari tata bahasa sehingga dia menjadi seperti Siwabih, juga tidak dalam mempelajari Bahasa Arab sehingga ia menjadi seperti Al-Khalil dan Al- Azhari, juga bukan dalam mempelajari kefasihan berbicara sehingga ia menjadi seperti Al-Jirjani! Bahkan, cukup baginya untuk mempelajari dari semua itu apa-apa yang dibutuhkan untuk memahami Al-Qur’an dan Sunnah dengan baik dan untuk melaksanakan apa yang telah Allah wajibkan kepadanya dalam hal ibadah.

[1] Jami Bayan al-Ilmu wa Fadhlili (1/9)
[2] Majmu Fatawa (8/80)
[3] Ini melalui riwayat Ali radhi yallahu anha, diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Thaharah, Bab Kewajiban Wudhu (no. 61). At-Tirmidzi dalam Sunannya, Kitab Tharah Bab Apa yang telah dikatakan mengenai pembuka Shalat adalah Thaharah (no. 3), Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Thaharah, Bab Pembuka Shalat adalah Wudhu (no. 27).
[4] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya dalam Kitab Iman, Bab Islam Dibangun di Atas Lima Perkara, dari Umar radhi yallahu anha dan Muslim dalam Shahih-nya Kitab Iman Bab Penjelas Pilar Islam dan Dasaar-Dasarnya (no. 6)
[5] Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari di beberapa tempat dalam Shahihnya, seperti dalam Kitab Shalat Jum’at (no. 893), Kitab Pemimpin (no. 1829). Matan dari Al-Bukhari adalah: Dari Abdullah bin Umar radhi yallahu anha ; “Tiap-tiap kamu adalah pemimpin dan akan ditanyai terhadap apa yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin dan ia ertanggungjawab terhadap apa yang dipimpinnya. Laki-laki adalah pemimpin keluarganya dan ia bertanggungjawab terhadap apa yang dipimpinnya, Seorang wanita adalam pemimpin dalam rumah tangga suaminya dan dia bertanggungjawab terhadap apa yang dipimpinnya. Budak adalah pemimpin bagi harta majikannya dan dia bertanggungjawab terhadap apa yang dipimpinnya. Tiap-tiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya.”
[6] Jami’ Bayan al-Ilmi wa Fadhilihi (1/9)

Reference:
Meletakan Landasan Dalam Menuntu Ilmu, Syaikh Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul, 2008.
http://www.raudhatulmuhibbin.org

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s